Profil Pemilik Batik Kwalik

  • Pemilik Batikkwalik : Budi Suryanto
  • Alamat : Ngadinegaran MJ 3/71 Kel. Mantrijeron Yogyakarta
  • Umur : 64 tahun
  • Pekerjaan : Pekerja seni Pendidikan SMA N I IKIP Yogyakarta, Akademi Sekretari dan Manajemen Santamaria Marsudirini, Santamaria Yogyakarta
  • Pengalaman kerja : Departemen Sosial Pusat Jakarta HWK Pusat Jakarta Owner Batik Kwalik Yogyakarta
  • Prestasi : Pemenang I Lomba Desain Tekstil se Indonesia,  Penyelenggara HWK Pusat Jakarta

Dengan kerendahan hati izinkan kami memperkenalkan "Batik Kwalik" karya seni Budi Suryanto

 

Batik Sebagai Warisan Budaya dan Mesin Penggerak Perekonomian Nasional

Indonesia merupakan negara yang memilki kekayaan berbagai macam kesenian dan kebudayaan, salah satunya adalah kesenian batik.  Batik dari aspek kultural adalah seni tingkat tinggi. Bahkan beberapa ahli menyatakan bahwa Batik mencapai kesempurnaannya di Jawa (Santosa Doelah dan Danarsih Hadiprijono, tt: 5). Pola-pola yang ada di batik memiliki filosofi yang sangat erat dengan budaya setiap masyarakat. Hal ini membuat batik dikatakan sebagai identitas bagi setiap daerah dan menjadi warisan kebudayaan Indonesia. Pada tanggal 2 Oktober 2009, United Nations Educational, Scientific and CulturalOrganization (UNESCO) menetapkan bahwa batik merupakan warisan budaya milk Indonesia, sekaligus 2 Oktober ini dicanangkan sebagai peringatan Hari Batik Nasional (Mulyanto, 2016: 6). Batik dinyatakan layak untuk dimasukkan dalam Representative List of theIntagible Cultural Heritage of Humanity.

Sebagai warisan budaya dapat pula ditafsirkan sebagai bagian dari jatidiri bangsa, Dengan kata lain, martabat suatu bangsa ditentukan oleh kebudayaannya. Oleh karena itu, bagaimana masyarakatnya dapat memberikan apresiasi yang bagus, tidak hanya dengan mengagumi karyanya, tetapi juga ikut melestarikannya dan sekaligus mengembangkannya.  Selain memiliki potensi sebagai warisan budaya, batik juga memiliki potensi sebagai mesin penggerak perekonomian nasional dan menciptakan lapangan kerja demi meningkatkan penghasilan masyarakat. Dan sekarang sudah menjadi komoditas sekaligus industry (Retno Puspitosari & Lastur Wahyudi, Eds., 2014: 2). Industri batik tersebar di banyak daerah di pulau Jawa maupun di luar pulau Jawa. Industri ini pun telah berkontribusi menggerakkan ekonomi nasional, faktanya hingga Oktober 2017 nilai ekspor batik mencapai USD 51,15 juta.  Terlihat jelas batik memiliki potensi ekonomi yang sangat besar bila dikembangkan dengan baik.

Potensi ini tidak lepas dari perkembangan batik menjadi sebuah karya seni yang modern. Karya seni batik memiliki motif yang semakin kreatif untuk tetap dapat memenuhi keingingan konsumen.  Jika motif batik zaman dahulu harus dikaitkan dengan mitologi, status sosial dan juga berkaitan dengan tanda kepangkatan dilingkungan kraton, maka kini motif batik jauh lebih inovatif guna mengejar laju globalisasi dan perubahan budaya dari masyarakat.   Motif ini lah yang dinamakan dengan motif  batik kontemporer.

 

Hak Cipta Karya Seni Batik :

Mengingat batik memiliki potensi ekonomi yang besar tentunya diperlukan perlindungan untuk menghindari adanya pihak yang memanfaatkan motif batik dengan cara mengambil esensi dari motif tersebut untuk dimodifikasi dan meramunya menjadi inovasi motif terbaru yang didaftarkan secara individual. Bahkan perlindungan ini menjadi semakin mendesak mengingat tingginya pembajakan batik Indonesia oleh produsen luar negeri,  serta produk batik buatan perajin Indonesia yang diekspor tanpa identits apapun, sehingga akhirnya diakui negara lain.  Hal ini tentu akan merugikan hak moral dan hak ekonomi dari pencipta batik kontemporer sebagaimana penelitian Devi Rahayu (2011: 130) dan Kartini Pramono (2013)

Perlindungan karya seni batik khususnya motif batik kontemporer telah diakomodir dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta). Penjelasan Pasal 40 ayat (1) huruf j UU Hak Cipta menyatakan jika “karya seni batik adalah motif batik kontemporer yang bersifat inovatif, masa kini dan bukan tradisional.”Karya tersebut dilindungi karena mempunyai nilai seni, baik dalam kaitannya dengan gambar, corak, maupun komposisi warna. UU Hak Cipta juga menegaskan bahwa pentingnya untuk melindungi Hak Cipta dikarenakan setiap pencipta, yang dalam hal ini adalah pencipta motif batik kontemporer berhak atas hak moral dan hak ekonomi. Sehingga bagi pihak lain yang ingin melaksanakan hak ekonomi atau hak moral tersebut wajib mendapatkan izin dari pencipta.

 

Mengapa Batik Kwalik?

Galerry “Batik Kwalik” yang beralamat di Ngadinegaran MJ 3 Nomor 71 Yogyakarta adalah satu wilayah diantara Kraton Yogyakarta dan Kawasan Hotel untuk Touris Prawirotaman, sehingga menjadi kawasan simpang atau lalu lintas turis asing. DI Kampung Ngadinegaran tersebut merupakan pusat perusahaan Batik terutama tradisional.

“Batik Kwalik” adalah varian baru tentang batik teknik baru melalui proses yang dibalik.

Pada umumnya proses pembuatan batik  setidaknya melalui 8 tahapan , yaitu :

  1. Pemotongan bahan baku (mori) sesuai dengan kebutuhan. 
  2. 2. Mengetel : menghilangkan kanji dari mori dengan cara membasahi mori tersebut dengan larutan : minyak kacang, soda abu, tipol dan air secukupnya. Lalu mori diuleni setelah rata dijemur sampai kering lalu diuleni lagi dan dijemur kembali. Proses ini diulang-ulang sampai tiga minggu lamanya lalu di cuci sampai bersih. Proses ini agar zat warna bisa meresap ke dalam serat kain dengan sempurna.  3. Nglengreng : Menggambar langsung pada kain.  4. Isen-isen : memberi variasi pada ornamen (motif) yang telah di lengreng.  5. Nembok : menutup (ngeblok) bagian dasar kain yang tidak perlu diwarnai.
  3. Ngobat : Mewarnai batik yang sudah ditembok dengan cara dicelupkan pada larutan zat warna. 7. Nglorod : Menghilangkan lilin dengan cara direbus dalam air mendidih (finishing).
  4. Pencucian : setelah lilin lepas dari kain, lalu dicuci sampai bersih dan kemudian dijemur.

Namun Batik Kwalik hanya memerlukan 3 proses, yaitu :  Melukis langsung dengan canting atau kuas, mewarnai dan menghilangkan lilin.

Yang membedakan sekaligus menjadi kelebihan dibanding batik pada umumnya adalah :

  • Dari aspek estetika, lebih ekspresif dan spontan
  • Unsur unsur dekoratif lebih menonjol
  • Pembuatannya lebih cepat sehingga dapat menghemat waktu, karena tidak ada proses “melorot” untuk menghilangkan lilin (malam) nya.
  • Selain itu juga menghemat tenaga karena proses pembuatan batikyang biasanya diperlukan minimal 3 orang (oarang yang membuat pola batik, oang yang membatik atau menorehkan lilin (malam) ke kain, dan orang yang melorot sekaligus mewarnai).
  • Ide dan kreativitas bisa tak terbatas, penuh inovasi baru.  Setiap inovasi dalam style, corak atau tema, akan mengundang inspirasi baru untuk melahirkan inovasi baru lagi. 
  • Proses dan mekanisme yang tidak biasa dan   keluar dari “pakem” ini tetap menghasilkan kualitas yang tidak kalah bagus dengan bak konvensional lainnya. Craftmanship terutama untuk corak dekoratif, masih tetap terjaga
  • Warna tetap cemerlang dan memungkinkan percampuran warna langsung di media kainnya. Warna ini tetap awet dan tidak luntur. Meskipun warna ditindih warna lain, media kain tetap tipis, lemas dan tidak kaku atau menjadi tebal. Cat yang ditorehkan masif seperti cat akrilik namun tidak kaku seperti cat tembok.
  • Proses ini mampu meniadakan limbah dan meminimalisir polusi
  • Custom : melayani pemesan berdasarkan keinginan dan kebutuhannya. Konsumen bisa mengutarakan idenya pada pelukis, atau isa memilih corak/desain yang ada, dengan sedikit modifikasi
  • Batik Kwalik ini eksklusif. Goresan tangan Budi Suryanto sangat khas, Konsumen hanya punya satu-satunya, sepeti lukisan cat minyak. Ini sebuah kebanggaan dan kepuasan pribadi

Kekurangan

Kekurangan atau keterbatasan ini sekaligus menjadi kelebihan dari Batik Kwalik karya Budi Suryanto ini.  Kekurangannya adalah : tidak bisa memenuhi permintaan secara massal, karena dibuat secara manual dan custom.  

Usaha untuk mempromosikan pernah dilakukan, yaitu Pameran Tunggal pada tanggal 16 – 18 di Jogja Gallery Jalan Pekapalan Alun-Alun Utara Yogyakarta bekerjasama dengan pencinta Batik sebagaimana diupload oleh Daru Waskita (https://media.iyaa .com/article/2015/05/3402752 _8612.html).

 

Batik Custom

Spesialisi Budi Suryanto adalah Batik Custom.  Pemesan bisa melihat corak atau template yang ada. Bisa juga memilih desain, warna, dan ukuran sesuai dengan keinginan.  Konsumen juga bisa membawa bahan atau media sendiri untuk dilukis.  Beberapa perancang busana sering membawa pola bahan polos yang siap jahit, untuk dilukis. Trial demi trial, eksperimen demi eksperimen yang pernah dilakukan Budi Suryanto sering menemukan hasil yang tak terduga dan tidak masuk akal. Namun bagi Budi, ini merupakan kepuasan tersendiri.  Sebelum batik kayu populer di Bantul, Budi sudah melakukan ekspermen dengan media tidak populer, seperti kayu, terpal, kanvas, bahkan plastik. Hasilnya membuat orang menggeleng kepala dan berdecak kagum.

 

HAKI:

Eksplorasi Budi Suryanto di bidang batik ini sangat berharga bagi perkembangan dunia tekstil di Indonesia. Oleh karena itu Budi mendaftarkan hak cipta atas karyanya itu ke Kemenkumham dengan nomor pendaftaran haki No : D 002017062340 pada hari Senin, 27 November 2017 untuk kategori : baju, kemeja, kaos (batik).

 

Tempat Belajar Akademisi:

Dalam bidang  keilmuan dan pendidikan (seni), Budi kembali menunjukkan komitmen sosialnya.  Kendati ia sudah mematenkan karya ciptanya itu, namun ia tidak menyimpan rahasia proses kreatifnya itu, baik metode, material pendukung, style atau gaya melukisnya. “Yang pengin tahu tentang formula cat batikku, silahkan saja”.   Ujarnya.  “Tidak ada rahasia. Siapapun yang pengin belajar,  bisa kesini. Mahasiswa,  pengamat seni, peneliti, atau seniman sepertiku, silahkan. Bebas” Imbuhnya... Beberapa mahasiswa yang melakukan penelitian tentang Batik Kwalik tidak sedikit. Baik dari perguruan tinggi seni maupun non seni, baik untuk penyelesaian tugas akhir maupun penelitian mandiri.  Beberapa tenaga pengajar yang tertarik baik sebagai pengamat, peneliti maupun pelaksana  pengabdian masyarakatung dosen  juga banyak.  Saat inipun sedang berlangsung dosen dari UNS mengadakan pengabdian masyarakat di Batik Kwalik tentang  manajemen, promosi dan hak cipta karya seni.